follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

KELAS KATA

KELAS KATA

Kelas kata adalah penggolongan kata menurut bentuk, fungsi, dan maknanya. Meskipun secara semantik ada persamaan antara kelas dalam berbagai bahasa, ciri-ciri formal kelas kata dapat berbeda antara bahasa.

Fungsi kelas kata

  1. Melambangkan pikiran atau gagasan yang abstrak menjadi konkret
  2. Membentuk berbagai macam struktur kalimat
  3. Memperjelas makna
  4. Membentuk satuan makna sebuah frasa
  5. Membentuk gaya pengungkapan
  6. Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi
  7. Mengungkapkan berbagai sikap

Kelas kata dalam bahasa Indonesia

a. Preposisi
Secara semantis, preposisi menandai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi dengan konstituen dibelakangnya. Dalam kasus klausa pergi ke pasar misalnya, preposisi ke menyatakan hubungan makna arah antara pergi dan pasar.
Secara sintaksis, preposisi berada di depan nomina, adjektiva, atau adverbia sehingga membentuk frasa yang dinamakan frasa preposisional, seperti ke kampus, sampai penuh, dan dengan segera.
Secara morfologis, preposisi tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan kata.
Dilihat dari bentuknya, preposisi ada dua macam, yaitu preposisi tunggal dan preposisi majemuk. Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata dapat berupa kata dasar, misalnya di, ke, dari, pada, dan kata berafiks, seperti selama, mengenal dan sepanjang.
b.adverbia

Adverbia atau kata keterangan adalah kelas kata yang memberikan keterangan kepada kata lain, seperti verba (kata kerja) dan adjektiva (kata sifat), yang bukan nomina (kata benda). Contoh adverbia misalnya sangat, amat, tidak.

Jenis adverbia

Cara penggolongan kata keterangan keterangan bermacam-macam tergantung dari sumber rujukan yang digunakan. Berikut salah satu cara pembagian kata keterangan.

  1. Kata keterangan alat. Misalnya: dengan.
  2. Kata keterangan kesertaan. Misalnya: bersama.
  3. Kata keterangan perlawanan. Misalnya: meskipun.
  4. Kata keterangan tujuan. Misalnya: untuk.
  5. Kata keterangan sebab. Misalnya: karena.
  6. Kata keterangan akibat. Misalnya: maka.
  7. Kata keterangan waktu. Misalnya: kemarin.
  8. Kata keterangan tempat. Misalnya: sana.
  9. Kata keterangan syarat. Misalnya: jika.
  10. Kata keterangan derajat. Misalnya: sedikit, banyak.
  11. Kata keterangan keadaan. Misalnya: sungguh-sungguh.
  12. Kata keterangan kepastian. Misalnya: mungkin.

c. Interjeksi
Secara semantis, interjeksi mengungkapkan rasa hati pembicara seperti rasa kagum,
sedih, dan heran. Untuk menyatakan betapa cantiknya seseorang, misalnya, kita
tidak hanya berkata, “Cantik sekali kau,” tetapi diaawali dengan kata seru atau
interjeksi aduh yang mengungkapkan perasaan kagum kita. Dengan demikian, kalimat
“Aduh, cantik sekali kau,” tidak hanya menyatakan fakta tetapi juga rasa hati
pembicara.
Secara sintaksis, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain.
Interjeksi mampu hadir secara mandiri dalam tutur tidak memerlukan pendampingan
konstituen lainnya.
(2) a. Masyaallah!
b. Masyaallah, seekor sapi berkepala lima!
(3) a. Amboi!
b. Amboi, sedap sekali masakan ini!
Kalimat (a) hanya memiliki satu konstituen, yakni interjeksi itu sendiri.
Kehadiran interjeksi tidak bergantung pada konstituen yang lain. Kalimat (b)
terdiri atas dua bagian. Pertama, bagian interjeksi. Kedua, bagian yang
mengungkapkan fakta. Kedua bagian itu tidak saling bergantungan. Masing-masing
mandiri secara semantis maupun sintaksis.
Secara morfologis interjeksi tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan
kata.
d. Artikula
Secara semantis, artikula adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Ada tiga
kelompok artikula, yaitu: artikula yang brsifat gelar, mengacu ke makna kelopok,
dan menominalkan.
Artikula yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang atau hal yang
dianggap bermartabat. Jenis-jenis artikula ini adalah sang, sri, hang, dan dang.
Artikula yang mengacu ke makna kelompok atau makna kolektif adalah para. Karena
artikula itu mengisyaratkan ketaktunggalan makna nomina yang diiringinya tidak
dinyatakan dalam bentuk kata ulang.
Artikula yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau generik,
bergantung pada konteks kalimatnya. Artikula itu adalah si.
(4) Aduh, kasihan si miskin itu mengais makanan dari tempat sampah.
(5) Dalam masa krisis si miskinlah yang selalu menderita.
Frasa si miskin dalam kalimat (4) menyatakan makna tunggal dan dalam kalimat (5)
menyatakan makna generik, yaitu kaum miskin.
Secara sintaksis, artikula terletak didepan nomina atau kata yang dinominalkan.
Artikula tidak pernah mengiringi nomina, tetapi selalu mendahuluinya.
Secara morfologis, artikula tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan
kata.

e.verba

kata kerja adalah kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Kelas verba yang ditemukan pada data terdiri dari (1) verba murni, yakni verba yang tidak berasal dari kelas kata lain, (2) verba denominal, yakni verba yang terbentuk dari nomina, (3) verba deadjektival, yakni verba yang terbentuk dan adjektiva, (4) verba denuineral, yakni verba yang terbentuk dari numeralia, dan (5) verba depronominal, yakni verba yang terbentuk dari pronomina.

f. pronomina

Pronomina atau kata ganti adalah jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Contohnya adalah saya, kapan, -nya, ini.

Penggolongan

Cara pembagian kata ganti bermacam-macam tergantung rujukan yang digunakan. Berikut adalah salah satu cara penggolongan pronomina.

  1. Kata ganti orang. Terbagi tiga dan dapat bersifat tunggal maupun jamak.

kata ganti orang

tunggal

jamak

pertama saya
kami
     aku
kita
kedua kamu        kau/engkau
kalian
ketiga dia     mereka
beliau
  1. Kata ganti pemilik. Misalnya -ku, -mu, -nya.
  2. Kata ganti penanya; berfungsi menanyakan benda, waktu, tempat, keadaan, atau jumlah,dsb. Misalnya apa, kapan, mengapa, siapa, bagaimana, berapa, di mana, ke mana.
  3. Kata ganti petunjuk. Misalnya ini, itu.
  4. Kata ganti penghubung. Misalnya yang.
  5. Kata ganti tak tentu. Misalnya barang siapa.

g. Numerelia

Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau urutannya dalam suatu deretan. Kata bilangan dapat dibagi menjadi dua jenis: kata bilangan tentu (takrif), misalnya satu, setengah, ketujuh; serta kata bilangan tak tentu, misalnya beberapa, seluruh, banyak.

h. Konjungsi

Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.

i.Adjektiva

Kata Adjektif ialah perkataan yang menerangkan sifat atau keadaan sesuatu

kata nama seperti hitam, besar, kuat, banyak dan sedikit. sifat atau keadaan sesuatu benda, orang, tempat, binatang, dan sebagainya.

j. Nomina

kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

FRASA

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nopredikatif, misalnya: bayi sehat, pisang goring, sangat enak, sudah lama sekali, dan dewan perwakilan rakyat. Klausa adalah kelompok kata yang sekurang kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.

Berdasarkan kelas katanya frasa dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:

  1. Frasa verbal

Frasa yang terbentuk dengan kata kerja.

  1. Frasa adjectival

Frasa adjektival adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata sifat.

  1. Frasa nominal

Frasa nominal adalah Kelompok kata yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda ke kiri atau ke kanan.

  1. Frasa advernbial

Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat

  1. Frasa pronominal

Frasa pronominal adalah frasa yang terbentuk dengan kata ganti.

  1. Frasa numeralia

Frasa numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan

  1. Frasa interrogative koordinatif

Frasa yang berintikan pada k ata Tanya

  1. Frasa demonstrative koordinatif

Frasa ini dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan

  1. Frasa proposisional koordinatif

Frasa ini dibentuk kata depan yang tidak saling menerangkan

KLAUSA

Klausa majemuk setara

Klausa adalah kelompok kata yang berpotensi menjadi sebuah kalimat. Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif) setiap klausa mempunyai kedudukan yang sama.

Klausa majemuk bertingkat

Klausa majemuk bertingkat (subordinatif) dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya.

Klausa gabungan majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat

Klausa gabungan majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat terdiri dari tiga klausa atau lebih , misalnya:

  1. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. Kalimat tersebut terdiri atas tiga klausa yang digabung menjadi kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk setara
  1. Dia pindah ke Jakarta, ( klausa utama)
  2. Setelah ayahnya meninggal, (klausa sematan)
  3. Ibunya kawin lagi, (klausa sematan)
  1. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. ( kalimat majemuk bertingkat)
  2. Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (kalimat majemuk setara)

KALIMAT

Pengertian kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran. Dalam bahasa lisan kalimat diawali dan diakhiri dengan kesenyapan dan dalam bahasa tulis diawali dengan huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda Tanya.

Kalimat disusun berdasarkan unsur unsur  yang berupa kata, frasa dan klausa. Jika disusun berdasarkan pengertian di atas, unsure-unsur tersebut mempunyai fungsi dan pengertian

Yang disebut bagian kalimat. Ada bagian yang dapat dihilangkan dan adapula bagian yang tidak dapat dihilangkan. Adapunciri-ciri kalimat yaitu

  1. Dalam bahasa lisan diawali huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru atau tanda tanya.
  2. Kalimat aktif terdiri dari subjek dan predikat
  3. Predikat transitif disertai objek
  4. Mengandung pikirian yang utuh
  5. Menggunakan urutan logis
  6. Mangandung satuan makna
  7. Dalam paragraph terdiri dari dua kalimat atau lebih.

Unsur-unsur kalimat

Subjek

Subjek merupakan unsur utama kalimat. Subjek menentukan kejelasan makna kalimat. Keberadaan subjek berfungsi sebagai : (1) membentuk kalimat dasar,kalimat luas, (2) memperjelas makna, (3) menjadi pokok pikiran, (4) menegaskan makna, (5) memperjelas pikiran ungkapan, (6) membentuk kesatuan pikiran.

Predikat

Seperti dengan subjek, predikat kalimat yang kebanyakan muncul secara eksplisit. Keberadaan predikat di dalam kalimat berfungsi sebagai:

  1. Membentuk kalimat dasr,majemuk,tunggal, luas
  2. Menjadi unsure penjelas
  3. Mengaskan makna
  4. Membentuk kesatuan pikiran
  5. Sebagai sebutan

Objek

Subjek dan predikat cenderung muncul secara eksplisit, namun objek tidaklah demikian. Kehadiran objek dalam kalimat tergantung dari predikatnya dan cirri dari objek itu sendiri.

Keberadaan objek pada kalimat berfungsi :

  1. Membentuk kalimat dasar pada kalimat berpredikattransitif
  2. Memperjelas makna kalimat
  3. Membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran.

Pelengkap

Pelengkap adalah unsure kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat.

Keterangan

Keterangan kalimat berfungsi menjelaskan atau melengkapi informasi pesan pesan kalimat. Tanpa keterangan informasi menjadi tidak jelas. Hal ini dapat dirasakan dalam pembuatan surat undangan, laporan penelitian, dan informasi yang terkait dengan tempat dan waktu

Konjungsi

Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.

Modalitas

Modalitas dalam sebuah kalimat sering disebut keterangan predikat. Modalitas dapat mengubah keseluruhan makna sebuah kalimat. Dengan modalitas tertentu makna kalimat dapat berubah menjadi sebuah pernyataan yang tegas , ragu, lembut, pasti dan sebagainya

Contoh:

Adik saya kemungkinan besar  seorang politikus

Pekerjaan itu memang tidak kusukai

2.3 Struktur Kalimat

Kalimat harus disusun berdasarkan struktur yang benar, pengungkapan gagasan secara baik, singkat, cermat, tepat, jelas maknanya, dan santun.

a)      Struktur yang Benar

Struktur kalimat dibentuk berdasarkan unsur subjek, predikat (disertai objek jika predikat menggunakan kata kerja transitif), pelengkap (disertai pelengkap jika predikat menggunakan kata kerja intransitif), dan keterangan (jika diperlukan).

Contoh:

(1)   Dalam rapat menegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersil untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan.(salah)

Kalimat tersebut salah karena induk kalimat berbentuk aktif tetapi tanpa subjek, subjek kalimat tersebut didahului kata depan dalam. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengubah kalimat tersebut menjadi bersubjek atau mengubah struktur kalimat menjadi pasif.

(1a) Rapat menegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersil untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan.

(1b) Dalam rapat ditegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersil untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan

(2)   Rapat yang menegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersil untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan.(salah)

Kalimat tersebut salah Karen menggunakan kata yang didepan predikat, sehingga predikat merupakan perluasan subjek. Perbaika dilakukan dengan menghilangkan kata yang, sehinnga kalimat menjadi seperti berikut: “Rapat menegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersil untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan.”

(3)   Meskipun ia tidak kaya, tetapi ia suka memberikan bantuan kepada orang miskin. (salah)

Kalimat tersebut salah karena merupakan penggabungan anak kalimat. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengubah kalimat tersebut menjadi dua kalimat tunggal yang terpisah atau mengubah salah satu anak kalimat menjadi induk kalimat sehingga menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

Contoh:

(3a) Ia tidak kaya. Ia suka memberikan bantuan kepada orang miskin.

(3b) Meskipun tidak kaya. Ia suka memberikan bantuan kepada orang lain.

(3c) Ia suka memberikan bantuan kepada orang miskin meskipun tidak kaya.

(3d) Ia tidak kaya tetapi suka memberikan bantuan kepada orang lain.

b)      Ketepatan Urutan Kata

Urutan kata, frasa, atau klausa dalam sebuah kalimat yang menggambarkan proses harus disusun secara logis.

Contoh:

(1)   Dalam kerjanya mereka mengerjakan laporan kegiatan dan menyusun perencanaan kemudin melaksanakan. (salah, urutan tidak logis)

(2)   Mereka menyusun rencana kerja, melaksanakan, dan melaporkan hasil pelaksanaanya. (benar, urutan logis)

(3)   Setelah melaksankan rencana kerjanya, mereka melaporkan hasilnya. (benar, urutan logis)

(4)   Mereka melaporkan hasilnya setelah melaksanakan rencana kerjanya. (benar, urutan logis)

Kata-kata, frasa, atau klausa yang mendukung fungsi (subjek, predikat, atau keterangan) tidak dikelompokan menjadi satu fungsi.

Contoh:

(1)   Adalah merupakan suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. (salah)

(2)   Bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan sudah merupakan kenyataan. (benar)

(3)   Adalah suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan. (benar)

(4)   Sudah merupakan suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. (benar)

c)      Ketepatan Hubungan Antarkalimat

Hubungan antar kalimat terkait dengan penggunaan kata penghubung dan gagasan yang dihubungkan.

Misalnya,

(1)   Gadis itu cantik. Tambahan pula ia kaya. (salah/tidak cermat. Cantik tidak ada hubungannya dengan kaya).

(2)   Gadis itu cantik. Tambahan pula, ia pandai berhias. (benar/cermat, kepandaian berhias menambah kecantikan gadiss itu).

2.3.1 Pola Kalimat

            Kalimat yang jumlah dan ragamnya begitu banyak, pada hakikatnya disusun berdasarkan pola-pola tertentu yang amat sedikit jumlahnya. Pola kalimat dapat menyederhanakan kalimat sehingga mudah dipahami orang lain.

2.3.1.1 Pola Kalimat Dasar

Pola kalimat dasar sekurang-kurangnya terdiri atas subjek (S) dan predikat (P). Pola kalimat dasar mempunyai cirri-ciri:

(1)   Berupa kalimat tunggal (satu S, satu P, satu O, satu Pel, satu K)

(2)   Sekurang-kurangnya terdiri dari satu subjek (S) dan predikat (P)

(3)   Selalu diawali dengan subjek

(4)   Berbentuk kalimat aktif

(5)   Unsur tersebut ada yang berupa kata dan ada yang berua frasa

(6)   Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas subjek, predikat, objek, dan keterangan.

Contoh:

(1)   Para siswa / sedang belajar

S                    P

(2)   Mereka / sedang mempelajari / kalimat dasar

S                    P                             O

(3)   Beberapa karyawan / sedang membahas / kasus bisnis / dirunag rapat

S                              P                           O                    K

Contoh kalimat luas:

Kata yang dicetak miring merupakan kalimat dasar

(1)   Para siswa yang kehilangan gedung sekolah itu sedang belajar bahasa Indonesia dengan sarana seadanya.

(2)   Mereka yang rajin belajar itu sedang mempelajari kalimat dasar

(3)   Beberapa karyawan yang sangat kreatif itu sedang membahas secara serius masalah kasus bisnis property diruang rapat pimpianan.

2.3.2 Pola Kalimat Majemuk

2.3.2.1 Kalimat Majemuk Setara

            Kalimat majemuk setara bersifat koordinatif, tidak saling menerangkan. Kalimat majemuk setara ada 4 macam, yaitu: (a) setara gabungan menggunakan kata dan, serta; (b) setara pilihan menggunakan kata atau; (c) setara urutan menggunakan kata lalu, lantas, dan kemudian; (d) setara perlawanan menggunakan kata tetapi.

Contoh:

  1. Kalimat setara gabungan menggunakan kata: dan, serta

Dosen menerangkan kalimat majemuk dan mahsiswa mendengarkan dengan cermat.

Dosen serta mahasiswa bekerja secara kreatif dan inovatif

  1. Kalimat majemuk setara pilihan menggunakan kata: atau

Anda pergi ke kampus atau menghadiri seminar?

  1. Kalimat majemuk setara urutan menggunakan kata: lalu, lantas, dan kemudian

Ia pulang lalu menjemput anaknya

Kami menyelesaikan kuliah lantas bekerja

Kami bekrja dan menabung kemudian mengawali bisnis ini

  1. Kalimata majemuk setara perlawanan menggunakan kata: tetapi

Mahasiswa itu mengharapkan nilai ujian yang tinggi, tetapi malas belajar

2.3.2.2 Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat disusun berdasarkan jenis anak kalimatnya. Kalimat majemuk bertingkat ada 8 macam, dibedakan berdasarkan jenis anak kalimat (AK).

(1)   AK keterangan waktu menggunakan kata ketika, waktu, saat, setelah, sebelum

Contoh:

Mereka segera mencari peluang kerja setelah menyelesaikan studinya

(2)   AK keterangan sebab menggunakan kata sebab, karena, lantaran

Contoh:

Orang itu meninggal karena menderita sakit jantung

(3)   AK keterangan hasil (akibat) menggunakan kata hingga, sehingga, akhirnya

Contoh:

Pengusaha itu bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan untung besar

(4)   AK keterangan syarat menggunakan kata jika, apabila, kalau, andaikata

Contoh:

Andaikata aku memenangkan lomba itu, maukah engkau menjadi pacarku?

(5)   AK keterangan tujuan menggunakan kata agar, supaya, demi, untuk, guna

Contoh:

Kita harus bekerja keras demi masa depan yang gemilang

(6)   AK keterangan cara menggunakan kata dengan, dalam

Contoh:

Dalam menghadapi kesulitan tersebut ia menerima dengan kesabaran.

(7)   AK keterangan posesif menggunakan kata meskipun, walaupun, biarpun

Contoh:

Saya akan berupaya meningkatkan kualitas kerja meskipun sulit diwujudkan

(8)   AK keterangan pengganti menggunakan kata bahwa

Contoh:

Presiden menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus menegakkan hukum.

2.4 Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat singkat,padat,jelas,lengkap,dan dapat menyampaikan informasi secara tepat.Kalimat efektif dapat mengomunikasikan pikiran atau perasaan penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengar secara tepat.

Adapun ciri-ciri kalimat efektif antara lain :

  1. Keutuhan,kesatuan,kelogisan,atau kesepadanan makna dan struktur,
  2. Kesejajaran bentuk kata,dan srtuktur kalimat secara gramatikal,
  3. Kefokusan pikiran sehingga mudah dipahami,
  4. Kehematan penggunaan unsur kalimat,
  5. Kecermatan dan kesantunan,
  6. Kevariasian kata,dan struktur sehingga menghasilkan kesegaran bahasa.

2.4.1 Keutuhan

Kesatuan kalimat ditandai oleh adanya kesepadanan struktur dan makna kalimat.

Contoh :

Saya saling memaafkan . (salah)

Kami saling memaafkan. (benar)

Rumput makan kuda di lapangan. (salah)

Kuda makan rumput di lapangan. (benar)

2.4.1 Kesejajaran

Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan secara konsisten.

Contoh :

Polisi segera menangkap polisi itu karena sudah diketahui sebelumnya. (salah)

Polisi segera menangkap polisi itu karena sudah mengetahui  sebelumnya. (benar)

2.4.3 Kefokusan

Kalimat  efektif  harus  memfokuskan pesan terpenting agar mudah dipahami.

Contoh :

Sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitas produk holtikultura ini. (tidak efektif)

Produk holtikultura ini sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. (efektif)

2.4.5 Kehematan

Setiap unsur kalimat harus berfungsi dengan baik,unsur yang  mengandung  kata  mubadzir harus dihindarkan.

  1. Subjek ganda

Buku itu saya sudah baca. (salah)

Saya sudah membaca buku itu.(benar)

  1. Penjamakan kata yang sudah berbentuk jamak

Mengambili (jamak),buku-buku (jamak)

  1. Menggunakan bentuk singkatan

Pimpinan memberikan peringatan kepada karyawan agar rajin bekerja. (benar tapi tidak singkat)

Pimpinan memperingatkan  karyawan agar rajin bekerja. (benar dan singkat)

  1. Menggunakan bentuk kata aktif dan bertenaga

Ia berdiri lalu pergi. (aktif tetapi kurang bertenaga)

Ia bangkit lalu pergi. (aktif dan bertenaga)

2.4.5 Kecermatan dan kesantunan

  1. Kecermatan

Kecermatan dalam kalimat ditentukan oleh pilihan kata.

Contoh :

Manusia ialah makhluk yang berakal budi. (salah,tidak cermat)

Manusia adalah makhluk yang berakal budi. (benar,cermat)

  1. Kesantunan

Gagasan yang diekspresikan menimbulkan suasana baik,akrab,dan harmonis.

2.4.6 Kevariasiaan

Berupa variasi struktur,diksi,dan gaya asalkan tidak merubah makna.

2.4.7 Ketepatan Diksi

Setiap kata harus mengungkapkan  pikiran secara tepat.

2.4.8 Ketepatan Kalimat

Kecermatan menggunakan ejaan menentukan kualitas penyajian data.

2.5 Kesalahan Kalimat

 

  1. Kesalahan struktur

Kesalahan struktur dapar berupa kalimat aktif tanpa subjek,tanpa unsur  predikat,menempatkan kata didepan objek,kata penghubuyng intrakalimat,salah urutan.

  1. Kesalahan diksi

Diksi salah jika menggunakan dua frasa bersinonim dalam satu frasa,menggunakan kata tanya yang tidak menanyakan sesuatu,menggunakan kata berpasangan tidak sepadan,menggunakan kata berpasangan secara idiomatic yang tidak bersesuaian,diksi atau kalimat kurang baik.

  1. Kesalahan ejaan

Jenis kesalahan ejaan :

  1. Penggunaan huruf kapital,huruf kecil,huruf miring,huruf tebal.
  2. Pemenggalan kata,
  3. Penulisan kata baku,
  4. Penulisan unsur serapan,
  5. Penulisan kata asing tidak dicetak miring,
  6. Penggunaan tanda baca,
  7. Penulisan kalimat atau paragraf
  8. Penulisan keterangan tambahan,penulisan aposisi,
  9. Penulisan judul buku,makalah,jurnal,
  10. Penulisan judul bab,subbab,bagian,subbagian,
  11. Penulisan data pustaka,catatan kaki,bibliografi.
About these ads


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.